Mengapa Kasus Korupsi Sulit di Berantas

Di Jaman sekarang, yang namanya korupsi,kolusi, dan nepotisme adalah barang biasa bagi sebagian besar negara. Yang namanya korupsi memang sangat sulit dihindari dan dihilangkan seluruhnya. Pasti kita semua sudah melihat atau mendengar diberbagai media massa kasus-kasus korupsi yang terjadi akhir-akhir ini yang mencangkup kalangan bawah, menengah, dan atas. Hal ini dikarenakan masih ada saja orang-orang bermental tempe yang selalu mencuri uang yang bukan haknya. Hampir semua negara di dunia ini pasti ada kasus korupsi, hanya saja besar kecilnya lah yang berbeda masing-masing negara.Persoalan korupsi memang telah mengakar dan membudaya.

Bahkan di Indonesia sendiri praktek korupsi hampir ada disemua kalangan mayoritas yang melakukannya adalah kaum-kaum penjabat negara, yang dimana seharusnya bekerja untuk mensejahterahkan rakyatnya bukan malah untuk memperkaya diri sendiri. Tak jarang yang menganggap korupsi sebagai sesuatu yang “lumrah dan Wajar“. Mungkin anda semua akan merasa jenuh ketika melihat berita di TV yang mungkin hanya mempertontonkan wajah parah koruptor atau aparat hukum mengungkapkan kasusnya tanpa memberikan hukuman yang setimpal. Nampaknya korupsi telah menjadi barang bergengsi, yang jika tidak dilakukan, maka akan membuat “stress” para penikmatnya. Korupsi berawal dari proses pembiasaan, akhirnya menjadi kebiasaan dan berujung kepada sesuatu yang sudah terbiasa untuk dikerjakan oleh pejabat-pejabat Negara. Tak urung kemudian, banyak masyarakat yang begitu pesimis dan putus asa terhadap upaya penegakan hukum untuk menumpas koruptor di Negara kita.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kasus-kasus korupsi di Indonesia sulit untuk diselesaikan atau diberantas. Faktor-faktor itu yaitu :

    1.     Penyakit Kronis Bangsa Indonesia

Selama hampir lebih tiga puluh dua tahun rezim orde baru berkuasa, dalam kurun masa itu penyakit dan virus korupsi berkembang subur. Keberadaannya dilindungi dan dikembang biakkan. Pertumbuhan yang cukup lama ini menyebabkan penyakit berbahaya ini menjangkiti hampir seluruh birokrasi pemerintahan maupun non pemerintahan di Indonesia. Akibatnya penyakit ini telah menjangkiti sebagian generasi yang kemudian diturunkan ke generasi berikutnya. Oleh sebab itu, salah satu cara untuk memutuskan rantai generasi korupsi adalah dengan menjaga kebersihan generasi muda dari jangkitan virus korupsi.

        2.    Sistem Penegakan Hukum yang Lemah     

Yang menjadi persoalan mengapa korupsi sulit diberantas adalah para penegak hukum itu sendiri. Munculnya istilah mafia hukum merupakan bukti kerendahan mental para penegak hukum di Indonesia. Lagi-lagi karena pengaruh budaya korupsi yang sudah cukup kronis menjangkiti Indonesia. Para petugas hukum yang ditugaskan untuk mengadili para koruptor alih-alih malah menerima amplop dari para koruptor. Aparat penegak hukum saat ini ada yang membela orang-orang yang memiliki kekuasaan ataupun pihak yang memiliki uang.

    3.    Hukuman Yang Kurang Tegas

Perlu diyakini pemerintah hanya memberikan hukuman ringan kepada para koruptor. Jika dibandingkan di Negara lain, hukuman terhadap koruptor di Indonesia ini tergolong sangat ringat. Di Cina, pelaku koruptor akan dipenggal kepalanya. Di Arab Saudi, pelaku koruptor akan dipotong tangannya sesuai dengat syariat islam. Tanpa hukuman yang tegas dan berat, tidak akan menimbulkan efek jera kepada sipelaku. Koruptor pun masih merasa tenang sekalipun sudah mendapatkan hukuman penjara , karena didalam penjara pun sipelaku masih bisa menyogok petugas agar diberikan fasilitas mewah bintang 5 sekalipun didalam tahanan. Kalau boleh usus seharusnya di Indonesia diterapkan hukuman mati untuk para koruptor, kemungkinan besar kasus korupsi yang akan terjadi akan menurun drastis. Karena calon koruptor akan berpikir seribu kali untuk melakukan tindak kejahatannya.

Selain itu beberapa alasan mengapa korupsi sulit diberantas yaitu :

  • Minimnya pemahaman dan pengamalan nilai2 agama di dalam keluarga . khususnya yang berhubungan dengan budi pekerti.Termasuk ajaran yang mengatakan : Mencuri barang orang itu perbuatan tercela, -kecuali mencuri hati seorang gadis , dan mencuri perhatian sang kekasih.

 

  • Orang berpendidikan, dan kaya lebih banyak yang mengutamakan kepentingan diri mereka ketimbang berbagi ilmu pengetahuan, keterampilan dan rejeki dengan saudara sebangsa se tanah air yang benar benar membutuhkan uluran tangan.

 

  •  Orang berpendidikan, dan kaya lebih banyak yang mengutamakan kepentingan diri mereka ketimbang berbagi ilmu pengetahuan, keterampilan dan rejeki dengan saudara sebangsa se tanah air yang benar benar membutuhkan uluran tangan.

 

  • Budaya permisif masih kental, dan kondisi ini menjadikan setiap orang cenderungn mentolerir suatu penyimpangan meski itu sudah banyak merugikan hak-hak mereka . Contoh, pelanggaran LL-soal Helm, lampu merah, dan lain2 .

 

  • Pemerintah dan DPR masih sangat dominan, dibanding Lembaga Penegakan Hukum seperti MA dan karena kurangnya partisipasi rakyat dalam memberantas korupsi.

Selain itu alasan mengapa korupsi sulit untuk diberantas yaitu karena saat ini korupsi bukan lagi dilakukan per orang, melainkan sudah dilakukan oleh rezim atau bersamaan. Modus korupsi yang lazim dan banyak dilakukan biasanya dengan cara memanipulasi anggaran. Gerakan anti korupsi hanya dijadikan komoditas untuk menarik simpati massa yang memang tidak tahu bagaimana caranya membrantas korupsi. Saya mempunyai beberapa contoh bagaimana negara dengan tingkat korupsi rendah mengawasi aktifitas warganya agar sulit melakukan korupsi. Azas praduga tidak bersalah tidak boleh dipakai pada kasus korupsi. Siapa saja dapat dituduh melakukan korupsi hanya berdasarkan gaya hidupnya.

Sebenarnya sulitnya korupsi diberantas itu bukan hanya kesalahan pemerintah saja. Tapi kita sebagai rakyat sebenarnya juga bersalah. Yaitu kurangnya usaha dari rakyat untuk berpartisipasi memberantas korupsi. Memang benar, banyak rakyat yang menyuarakan aspirasi dan dukungan pada pemerintah untuk memberantas korupsi. Tapi itu hanyalah usaha yang mengambang, karena tidak ada tindakan dari rakyat untuk memberantas korupsi. Jika memang ada tindakan dari rakyat untuk memberantas korupsi, seharusnya rakyat menolak ketika ada calon pejabat yang memberikan uang atau semisalnya pada pemilu kemarin. Tapi faktanya, banyak rakyat yang menerima pemberian para calon pejabat. Padahal dengan menerima pemberian itu sama saja rakyat membuat angka korupsi di Indonesia semakin bertambah. Karena, bagaimanapun juga para pejabat tersebut pasti ingin uang yang mereka keluarkan ketika mencalonkan diri, kembali lagi ke kantong mereka.

Jika hanya mengandalkan gaji mereka selama lima tahun, mungkin tidak akan cukup untuk mengembalikan uang yang sudah mereka keluarkan, jadi jalan pintas bagi mereka tentu saja korupsi. Untuk mengatasi masalah korupsi, seharusnya rakyat menolak pemberian para calon pejabat ketika pemilu. Selain itu pemerintah juga harus membuat aturan untuk membatasi pengeluaran biaya kampanye yang dapat mendorong pejabat untuk korupsi. Pemerintah juga harus mencari hukuman yang dapat membuat para koruptor itu takut mengulangi korupsi lagi dan juga yang dapat membuat calon koruptor takut melakukan korupsi. Selain itu ketegasan seorang hakim juga harus ada. Jangan sampai ada seorang hakim mudah disogok. Jika ditemukan ada hakim yang menerima sogokan pemerintah harus bersikap tegas. Yaitu dengan memecat dan di hukum yang setegas mungkin.

Tapi melihat kinerja KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) pada saat ini, saya masih merasa optimis bahwa pemeberantasan korupsi di Indonesia bukanlah hal yang mustahil dilakukan. Namun tindakan yang mulia ini tidak bisa selesai dalam waktu yang singkat. Mungkin butuh waktu beberapa tahun mungkin bahkan berpuluh puluh tahun untuk membuat Indonesia benar-benar menjadi negara yang bersih dari praktek korupsi.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: